Penegakan Hukum Plagiarisme di Indonesia

Bagi Ari Juliano, konsultan Hak Kekayaan Intelektual, yang pula Deputi Fasilitasi HKI serta Regulasi, Tubuh Ekonomi Kreatif, plagiarisme ialah sebutan akademis yang merujuk pada aksi pengakuan terhadap karya orang lain serta orang tersebut memublikasikannya.

” Dalam Undang- Undang Hak Cipta, plagiarisme ini dijabarkan lagi dalam sebagian sebutan semacam mengumumkan, memublikasikan, ataupun menjual hasil karya orang lain tanpa seizin dari owner karya tersebut,” ucap Ari.

Secara hukum, bila teruji suatu karya merupakan karya plagiat, dapat dicoba penuntutan sebab tercantum dalam aksi pidana.

Dengan catatan, karya tersebut telah diterbitkan serta dikenal oleh khalayak universal,” tegas Ari.

Lebih lanjut, bagi Ari, publikasi karya tidak berarti wajib lewat media massa maupun penerbitan besar.

Bagi Ari, batas tentang karya yang diucap termotivasi dari karya orang lain memanglah sangat subjektif.

“ Bila elemen warna, motif, ataupun bahan yang digunakan nyatanya sama dengan karya yang menginspirasi tersebut, hingga itu dapat dikatakan menjiplak,” jelas Ari.

Demikian pula karya yang ialah hasil menyesuaikan diri dari karya yang telah terdapat.

Buat karya menyesuaikan diri, pastinya ia wajib telah mengantongi izin dari pencipta karya yang diadaptasi.

Lagu karyanya yang bertajuk‘ Someday’ serta jadi soundtrack buat film Dream High dituding menjiplak dari lagu To My Man karya komposer Kim Shin II yang dirilis pada tahun 2005.

Menimpa plagiarisme ini, Lucky Setiawati, S. H. dalam postingan Menjauhi Pelanggaran Hak Cipta dalam Menulis sebagaimana yang kami sarikan, berkata kalau bila seorang memakai karya ataupun ciptaan orang lain sangat bisa jadi dia hendak melaksanakan plagiarisme.

Perihal seragam pula dikatakan ahli Hak Kekayaan Intelektual Cita Citrawinda Priapantja dalam postingan Sinetron Jiplakan Artis Dapat Batalkan Kontrak Sepihak sebagaimana kami sarikan, melaporkan kalau plagiarisme ataupun penjiplakan ialah pelanggaran hak cipta ialah dengan jalur perbanyakan hak cipta tanpa seijin penciptanya.

Dari definisi- definisi plagiarisme yang kami sebutkan di atas jelas kalau plagiarisme merupakan penjiplakan yang melanggar hak cipta.

Hak Cipta itu sendiri merupakan hak eksklusif untuk Pencipta ataupun penerima hak buat mengumumkan ataupun perbanyak Ciptaannya ataupun membagikan izin buat itu dengan tidak kurangi pembatasan- pembatasan bagi peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Bagi Pasal 2 ayat UUHC, hak cipta ialah hak eksklusif untuk Pencipta ataupun Pemegang Hak Cipta buat mengumumkan ataupun perbanyak Ciptaannya, yang mencuat secara otomatis sehabis sesuatu ciptaan dilahirkan tanpa kurangi pembatasan bagi peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Yang diartikan dengan hak eksklusif, bagi Uraian Pasal 2 ayat UUHC, merupakan hak yang sekedar diperuntukkan untuk pemegangnya sehingga tidak terdapat pihak lain yang boleh menggunakan hak tersebut tanpa izin pemegangnya.

UUHC mengatakan hal- hal yang tidak dikira selaku pelanggaran hak cipta di dalam Pasal 15 UUHC.

Jadi, plagiarisme terhadap sesuatu karya musik bisa dikira selaku pelanggaran hak cipta sejauh tidak disebutkan ataupun dicantumkan sumbernya.

Atas pelanggaran hak cipta dalam Pasal 2 UUHC, pelakon plagiarisme bisa dijerat dengan ancaman pidana bagi Pasal 72 ayat UUHC dengan dipidana dengan pidana penjara tiap- tiap sangat pendek 1 bulan serta/ ataupun denda sangat sedikit Rp1. 000. 000, 00, ataupun pidana penjara sangat lama 7 tahun serta/ ataupun denda sangat banyak Rp5. 000. 000. 000, 00.

Bersumber pada Pasal 56 ayat UUHC, pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ubah rugi kepada Majelis hukum Niaga atas pelanggaran Hak Ciptanya serta memohon penyitaan terhadap barang yang diumumkan ataupun hasil Perbanyakan Ciptaan itu.

Related Post