Peran Psikolog dalam Hukum dan Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Banyak peran sebagai seseorang psikolog di Indonesia dalam menolong proses hukum, yakni dengan aparat kepolisian, kejaksaan, pengadilan, serta lembaga pengembangan masyarakat. Semacam terjadinya banyaknya kasus- kasus pada akhir- akhir ini semacam pelecehan intim, pembunuhan, serta lain sebagainya. Kasus- kasus semacam itu pula butuh penindakan dari seseorang psikolog untuk mengasesmen pelaku serta korban dalam hal ke- abnormalitasnya. Yaitu mereka butuh di amati dari sebagian aspeknya, semacam kepribadiannya, kognitif, klinis, pertumbuhan, serta sosialnya, sebab tiap pelaku serta korban tentu memiliki latar belakang yang dapat menimbulkan mereka melakukan hal- hal yang tidak sewajarnya. Bisa jadi pelaku memiliki kendala pedofilia, psikopat, maupun retardasi mental sehingga dapat melaksanakan kejahatan- kejahatan, hingga peran psikolog bertanggung jawab mengenali serta mengasesmen pelakon serta korban buat melaksanakan konseling, bagaimana biar mereka tidak terjerat hukum yang berlapis.

Sebagian masyarakat awam masih belum banyak yang mengetahui, bahwa psikolog dan psikiater merupakan dua profesi yang berbeda. Meskipun keduanya memang sama sama berkaitan dengan kesehatan mental dan menyediakan layanan terapi, namun bukan berarti profesi mereka sama. Untuk lebih jelasnya, berikut perbedaan psikolog dan psikiater yang perlu anda tahu.

Perbedaan Antara Psikolog dan Psikiater

1. Pendidikan

Perbedaan pertama yang cukup signifikan antara psikolog dan psikiater, yaitu terletak pada jenjang pendidikannya. Untuk seorang psikolog, sebelumnya mereka harus mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi. Kemudian melanjutkan ke program profesi, untuk mempelajari dan mempraktikkan kerja psikolog.

Berbeda dengan psikolog, psikiater pertama tama harus mendapatkan gelar kedokteran di universitas. Kemudian menghabiskan 1 atau 2 tahun pelatihan terlebih dahulu sebagai dokter umum. Dan untuk memperoleh gelar psikiater tersebut, mereka harus setidaknya menyelesaikan 5 tahun pelatihan dalam diagnosis serta perawatan penyakit mental.

2. Kondisi yang Dirawat

Meski orang yang dirawat oleh psikolog maupun psikiater berkaitan dengan kondisi mental, namun terdapat perbedaan yang cukup besar. Karena psikolog menangani orang yang dapat dibantu secara efektif menggunakan perawatan psikologis. Sementara psikiater cenderung memerlukan pertimbangan psikologis maupun medis, dalam menangani orang.

3. Perawatan yang Disediakan

Perbedaan psikolog dan psikiater juga terletak pada perawatan yang disediakan. Dimana psikolog fokus pada penyediaan perawatan secara psikologis. Sementara psikiater bisa menyediakan lebih banyak macam perawatan, yang termasuk juga perawatan medis umum dan obat obatan. Mereka juga dapat memeriksa kesehatan fisik, serta efek dari pengobatan yang dilakukan.

Hal tersebut tentunya bisa dilakukan oleh seorang psikiater, mengingat bahwa latar belakang pendidikan mereka adalah kedokteran. Seorang psikiater bahkan bisa melakukan terapi stimulasi otak seperti ECT atau terapi electroconvulsive. Dimana seorang psikolog tidak dapat melakukannya dan tidak boleh memberikan obat ketika menangani orang.

Apabila anda mengalami masalah atau keluhan yang terkait dengan gangguan mental, anda dapat berkunjung terlebih dahulu ke dokter umum. Apabila sudah mendapatkan diagnosis awal mengenai kondisi anda, nantinya dokter umum dapat merekomendasikan anda untuk menemui psikolog atau psikiater. Selain itu, psikolog dan psikiater dapat bekerja sama melakukan penanganan.

Related Post